Sisi Lain Kehidupan

BERLARI TANPA MENGENAL BATAS

Prestasi Bag. 1 28 Agustus 2011

Filed under: Tak Berkategori — ibnuanhar @ 03:29

Mempunyai prestasi sesungguhnya idaman semua orang atau harapan dari keluarga terdekatnya. Saya teringat dengan masa lalu saya saat dibayang-bayangi pikiran untuk berprestasi. Sayangnya, sarana dan pra-sarana serta situasi kurang mendukung bagi saya untuk berprestasi seperti apa yang saya bayangkan. Tetapi bagaimana pun juga saya bersyukur dan bahagia atas sekecil apa-pun prestasi yang pernah saya capai dan yang coba saya capai di waktu yang akan datang. Berbekal pengalaman masa lalu, maka saya sangat mendukung dengan semaksimal mungkin terhadap anak, saudara, teman atau siapa pun yang berjuang meraih prestasi.

Saya berniat mengumpulkan catatan-catatan prestasi fantastis anak muda Indonesia dalam satu blog. Semoga saya punya waktu untuk itu. Di blog ini, saya coba memposting pretasi dari kerabat terdekat saja. Untuk yang pertama, saya mulai dari keberhasilan adik saya Denli yang meraih medali emas Pekan Penelitian Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2011. Berikut berita yang saya kutip dari : http://www.itb.ac.id/news/3296.xhtml

ITB Meraih 3 Emas, 4 Perak, 2 Perunggu dan 1 Favorit di Pimnas XXIV

Minggu, 24 – Juli – 2011, 13:51:03

Bandung, itb.ac.id – ITB meraih 3 emas dan 2 perak untuk kategori poster sedangkan untuk kategori presentasi penghargaan yang diraih adalah 2 perak, 2 perunggu dan 1 favorit dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXIV. Dengan perolehan medali ini ITB menempati peringkat ke-9 nasional pada ajang bergengsi mahasiswa nasional yang berlangsung pada Senin hingga Kamis (18-21/07/11) di Universitas Hasanuddin Makasar.

“Salam Ganesha! Bakti kami untukmu, Tuhan, bangsa dan almamater. Merdeka!” Teriakan itu berkali-kali dikumandangkan tiap kali kontingen dari ITB memenangkan medali. Dipimpin oleh Tizar Bijaksana sebagai Presiden Kabinet Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, salam ganesha ini diikuti oleh para kontingen dengan semangat.

Peraih emas dari kategori poster didapatkan oleh tim PKMK yang dipimpin Yeris Permata Octarina dengan judul ‘Jaketrans. Jaket Bertransformasi Sebagai Peluang Usaha Dunia Fashion Modern yang Praktis dan Inovatif’, tim PKMT yang dipimpin oleh Mohammad Ikhsan dengan judul ‘Penerapan Teknologi Perfilman untuk Sarana Publikasi Karya Institusi Pendidikan di Indonesia’ dan tim PKMP yang dipimpin oleh Denli dengan judul Konversi Lignin Menjadi Surfaktan.

Untuk medali perak diraih oleh tim PKMP yang dipimpin oleh Habiburahman dengan judul Penggunaan B-Carotene, Rhodamine B dan Malachite Green Sebagai Bahan Semikonduktor Sel Surya dan PKMT yang dipimpin oleh Bani Idham Muttaqien dengan judul ‘Pengembangan dan Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis Berbasis Web (EB-SIG) Untuk Travel Wisata Asgar Muda’.

Sedangkan untuk kategori presentasi medali perak diraih oleh tim PKMT yang dipimpin oleh Mohammad Ikhsan dan tim PKMGT yang dipimpin oleh Shofarul Wustoni dengan judul ‘Inovasi Proses Produksi Garam Untuk Kemandirian Indonesia’. Medali Perunggu diraih oleh tim PKMK yang dipimpin Yeris Permata Octarina dan PKMGT yang dipimpin Iswiati dengan judul ‘Sistem Terpadu Peringatan Dini Bencana Kelautan di Pesisir Selatan Jawa Barat. Terakhir untuk juara favorit diraih oleh tim PKMT yang dipimpin Aditya Banuaji dengan judul ‘Optimasi Peternakan Ayam dengan Menggunakan ACEF – Automatic Chicken Feeder’.

 

Psikotest Anak Anak 3 Juni 2011

Filed under: Tak Berkategori — ibnuanhar @ 16:20

Psikotest sepertinya sudah menjadi trend sejak mulai Taman kanak-kanak. Dua anak saya yang duduk di TK B atau TK besar dan Play Group atau Kelompok Bermain mengikuti Psikotest yang diadakan di Taman Kanak-Kanak tempat mereka belajar. Berikut hasil diskusi dan penjelasan dari pihak penyelenggara psikotest.

Penjelasan secara umum :

Angka kecerdasan skala Binet 90-109 (sedang) :

  • Lebih lambat dalam menerima pelajaran
  • Memerlukan alat peraga
  • Tekun/mudah diarahkan

Angka kecerdasan skala Binet 110-119 (Rata-rata cerdas) :

  • Sistem belajar To the Point
  • Moddy dalam belajar yakni muncul sewaktu-waktu
  • Sering meremehkan segala sesuatu

Gaya Belajar :

Audio : Posisi berdampingan

-         Pendengaran dominan sehingga lebih cepat dalam hafalan

-         Punya suara keras

-         Kurang suka menulis dan membaca

-         Menyukai cara belajar diskusi atau dibacakan oleh orang tua

-         Hanya suka belajar yang disenangi saja

Visual : Posisi berhadapan

-         Perlu adanya object

-         Mampu memahami tontonan dengan cepat

-         Suka baca tulis atau gaya belajar konvensional

-         Suka corat coret dan warna yang mencolok

Kinestetis :

-         Tidak bisa diam atau selalu ada anggota tubuh yang bergerak

-         Suka Praktek

-         Bentuk tulisan tidak rapi atau motorik halusnya kurang

-         Cepat bosan dan merasa cepat bisa

-         Berikan sentuhan positif akan memberikan rasa nyaman buat mereka

Hasil Test Gaya Belajar :

  • Sang Kakak mempunyai Tipe belajar Audio dan Kinestetis
  • Sang Adik mempunyai Tipe belajar Visual dan Audio

Temperamen :

Untuk usia Taman Kanak-Kanak, temperamen bersifat sementara. Terdapat 4 macam temperamen :

Dominance :

-         Pemimpin tetapi tidak mau diatur/berani. Ia hanya mau diperintah oleh orang yang lebih berwibawa

-         Sisi negatifnya, keras kepala/otoriter kalau dikoreksi

-         Pandai menyimpan sesuatu/dendam

-         Yang perlu dilakukan orang tua adalah memberi keleluasaan dalam menentukan pilihan

Influence :

-         Magnet/mencari perhatian/popular

-         Cerewet, penakut, jago kandang, suka pujian

-         Mementingkan penampilan

-         Berikan pujian seperlunya saja

Steadiness :

-         Lekat secara emosional dengan orang tua

-         Pemaaf, pendengar yang baik, kharismatik

Compliance :

-         Suka bertanya yang aneh-aneh

-         Jiwa kritis tinggi, cengeng, melankolis dan perasa

Hasil Tes Temperamen :

  • Sang Kakak : Dominance, influence
  • Sang Adik : Steadines, Compliance
 

Karya Dari Seorang Adik Bag. 1 25 November 2010

Filed under: Sambung Kata — ibnuanhar @ 01:56

Kesamaan hobby antara saudara sungguh hal menyenangkan. Saya suka menulis menulis hal-hal yang berhubungan dengan Olahraga dan menghasilkan pemasukan tambahan dari bidang ini. Sedangkan adik saya terkecil bernama Denli juga sangat senang menulis dan mengikuti lomba-lomba penulisan. Salah satu karyanya menjadi Juara II lomba menulis Cerpen yang karya-nya saya kutip dibawah ini. Semoga selalu berkarya Adikku.


=========================================================================================================================

Alhamdulillah mendapat juara 2 lomba menulis cerpen tingkat Nasional ISEF dari total 554 tulisan masuk.
Judul lomba : Muwaffaqah
Pengarang : Denli
Link : http://akhidenli.wordpress.com/2010/08/17/cerpen-muwaffaqah/#more-406

——————–

“Jadi kesimpulan pertemuan kita hari ini adalah tidak ada cara baku dalam mengajarkan Islam. Perlu banyak inovasi dan penyesuaian dengan kondisi saat ini,” Ustad Alamsyah menyimpulkan mentoring kami hari ini dan menutup pertemuan dengan Hamdallah.

“Akhirnya selesai juga Wat, kita bisa main basket sekarang,” ujar Salim. Salim adalah teman baikku, teman di rohis, dan juga teman satu kelompok mentoring. Aku dan Salim adalah siswa di SMA N 4 Lahat, Sumatera Selatan. Aku baru 8 bulan kenal mentoring dan menurutku mentoring cukup efektif sebagai metode mengajarkan Islam, setidaknya aku diangkat menjadi kepala divisi di rohis SMA, lebih dikenal sebagai Rohis Ash-Shaff, belum lama sejak ikut mentoring. Aku mempunyai nama yang cukup asing, Kurenai Wataru, namun aku bangga dengan nama itu. Basket, menulis, dan mentoring adalah kegiatan rutinku setiap minggu. Aku dikenal cukup pintar, tidak begitu alim, ramah, dan usil, kombinasi sifat yang aneh memang.

Banyak yang bilang anak rohis itu tidak mengenal cinta semasa remaja. Pada saat mentoringpun Ustad Alam berulang kali mengingatkan untuk tidak terjebak cinta sampai kita benar-benar sudah siap. Seorang perempuan membuatku menjadi anak rohis yang merasakan anehnya cinta itu. Perempuan itu bernama Mio Fadlillah, adik kelasku sendiri.

Awal kisahnya adalah sekitar lima bulan yang lalu ketika siswa baru masuk kesekolahku. Saat itu baru lewat dua minggu aku diangkat menjadi kepala divisi media rohis Ash-Shaff dan aku mendapatkan sms dari seseorang yang tidak kukenal.

“Assalamualaikum kak, apakah siswa baru seperti saya boleh menyumbangkan tulisan di buletin Al Banna?”

Bukan hal yang mengherankan jika aku sering mendapatkan sms mengenai buletin Al Banna karena nomor hp ku tertera di bagian kanan bawah buletin sebagai pusat informasi. Buletin Al Banna adalah buletin mingguan yang diterbitkan oleh divisi media rohis SMA-ku, lebih tepatnya akulah yang memberikan nama Al Banna. Nama tersebut berasal dari nama ulama besar yang sangat memperhatikan pengajaran dan pendidikan Islam, Hasan Al Banna. Sengaja aku pilih nama itu karena aku sangat konsen dalam mencari metode pendidikan Islam yang efektif di zaman sekarang ini, dan media merupakan salah satu pilihan yang kurasa cukup baik.

Kubalas sms itu dengan penjelasan cara-cara mengirimkan tulisan untuk buletin dan kuakhiri smsku dengan menanyakan identitas pengirim. Namun tidak ada balasan sama sekali. “Paling orang yang iseng aja,” batinku.

Sabtu siang jam 1, seperti biasa, aku memimpin rapat koordinasi dan penyusunan buletin Rohis Ash-Shaff. Rapat koordinasi kali ini berlangsung cepat, dan memang selalu cepat. Penyusunan buletin lah yang cukup lama. Proses penyusunan dimulai dari pemilihan tulisan yang dikirim oleh para siswa. Salim membawa sebuah kotak yang biasanya menempel di dinding dekat pintu sekretariat rohis dan memeriksa isinya. Aku ingat sekali kotak itu sebenarnya adalah kardus supermie yang aku minta di warung pak hol, sebuah warung di pojok sekolah. Kardus tersebut telah disulap menjadi kotak cantik oleh perempuan-perempuan di divisi media yang memiliki kreativitas di atas rata-rata, itu pendapat subjektifku.

“Ada berapa tulisan yang masuk minggu ini?” tanyaku pada Salim.

“12 artikel dan 23 jawaban kuis”

“Seperti biasa” jawabku pelan. Jumlah artikel dan jawaban kuis yang masuk setiap minggunya memang berkisar di angka itu. Angka itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Buletin yang mempunyai 6 halaman ini berisi 2 artikel kiriman, 1 artikel tetap dari ketua divisi media yang merangkap menjadi ketua redaksi (aku maksudnya), dan sisanya berbagai tulisan maupun hiburan non-artikel yang dikumpulkan tim media. Hasil wawancara terhadap beberapa orang yang artikelnya dimuat menunjukkan bahwa ada dua motivasi utama yang membuat mereka semangat mengirim tulisan. Motivasi yang pertama adalah hadiah menarik dari tim media, sebuah Alma’ Tsurat sumbangan alumni yang langsung didatangkan dari tempat kerjanya, Mesir. “Ingin eksis,” itulah motivasi lain para penulis artikel. Alasan yang masuk akal karena memang nama penulis tertulis jelas di bawah judul artikel, bahkan di bold.

“Akh Wataru, ini ada tulisan bagus, tapi tidak ada nama pengirimnya,” ucap Nurul, salah satu anggota divisiku, sambil menyerahkan secarik kertas. Kubaca tulisan itu, judulnya Qurotta Ayyun. Kubaca paragraf pertama dalam tulisan tersebut.

—————————————–
Qurotta Ayyun
Sudah kenalkah anda dengan identitas sebenarnya dari perempuan? Allah SWT menciptakan perempuan pertama, Hawa, dari tulang rusuk Adam. Hawa berasal dari kata hayyun yang artinya hidup atau bisa dimaknai bahwa pada hakikatnya penciptaan perempuan adalah untuk selalu menampakkan kehidupan, selalu menunjukkan semangat, selalu memperlihatkan keceriaan, dan poin utama adalah Qurotta Ayyun, menjadi penyejuk pandangan bagi lingkungan di sekitarnya.
—————————————–

“Tulisannya diawali dengan kata-kata yang cukup menarik, namun terlalu cepat menyampaikan gagasan utama, pasti paragraf berikutnya akan kurang menarik” batinku. Setelah membaca sampai tuntas, aku sadar pendapatku tadi salah. Paragraf demi paragraf berisi tulisan dengan ide-ide segar yang baru namun tidak keluar konteks besar mengenai Qurotta Ayyun. Seni menulis yang digunakan bervariasi, mulai dari sastra elok yang membuatku mendayu-dayu, bahasa lugas dengan definisi-definisi singkat, sampai analisis mendalam dengan paduan kata-kata yang sangat efektif. Kekagumanku yang utama bukan pada gagasan dan seni menulis, namun sihir yang diciptakan yang memain-mainkan perasaanku seenaknya. Di paragraf-paragraf awal, perasaanku dibuat tersentak dengan masih sangat minimnya pengetahuanku mengenai perempuan, lalu aku dibuat bergetar dan merinding dengan caranya menginterpretasikan ayat-ayat Quran, kemudian hatiku dibuat berseri-seri dan mulutku dibuat tersenyum dengan humor ringan, dan bagian akhir, sungguh sangat mengharukan, aku tidak bisa menahan air mataku keluar.

“Hei Wat, ada apa?” tanya Salim yang juga membuat aku tersadar dari dunia perasaanku.

Tanpa menjawab aku mengumumkan, “Subhanallah, tulisan ini aku tetapkan masuk di bagian utama buletin kita edisi ini!”

“Bukannya gak ada identitasnya ya? Nanti kita tulis dari mana dong sumbernya?”

Aku segera memeriksa setiap sudut kertas itu, namun ternyata memang tidak ada nama pengirimnya. Hanya ada tulisan “dari seorang perempuan yang berharap mendapat petunjuk”.
Setelah merenung sejenak, aku mendapatkan ide, “buat aja Muwaffaqah sebagai nama pengarangnya.” Muwaffaqah berasal dari bahasa Arab yang artinya yang mendapatkan petunjuk. Pemilihan nama itu sekaligus sebagai doa bagi pengirim supaya beliau mendapatkan petunjuk yang terbaik baginya.

Sejak saat itu, hampir setiap minggu tulisan perempuan misterius itu terbit dalam buletin Al Banna. Dulu pembaca hanya penasaran dengan nama Shabwah, sekarang ditambah lagi dengan Muwaffaqah. Ohiya, sejak awal aku tak pernah menggunakan nama Kurenai Wataru untuk tulisan-tulisan di buletin, aku hanya memperkenalkan nama Shabwah. Tentu seluruh anggota divisi media mengetahui hal itu, tapi aku minta dirahasiakan untuk menjaga keikhlasan dalam menulis.

Tidak terasa tinggal 2 bulan lagi aku akan menyelesaikan SMA-ku. Aku sudah tidak aktif lagi di rohis, mengirim tulisan di buletin pun sekali-sekali saja. Saat ini ada dua hal yang menyita konsentrasiku, ujian kelulusan SMA dan seleksi beasiswa kemitraan. Keduanya bisa dibilang sama pentingnya. Lulus SMA tentu tidak perlu ditanyakan lagi buat apa. Beasiswa kemitraan adalah program pemerintah daerah untuk menyekolahkan putera daerahnya ke salah satu dari tiga perguruan tinggi negeri, yaitu ITB, UGM, atau Unsri. Kondisi ekonomi keluargaku yang pas-pasan semenjak bapak meninggal 8 tahun yang lalu dan tekat bulatku untuk tidak membebani emak membuatku begitu mengharapkan beasiswa ini.

Pagi itu aku duduk di teras kelasku sambil menunggu waktu dimulainya tryout ujian akhir. Udara begitu sejuknya, beberapa teman sekelasku, seperti biasa, kebanyakan sedang membaca Alma’ Tsurat di dalam kelas. Kebetulan aku sudah membacanya usai sholat subuh tadi.

“Assalamualaikum” ada suara asing tapi merdu menyapaku dari belakang.

“Waalaikumsalam” jawabku sambil berbalik menatap sang penyapa. Hatiku tergetar, untuk beberapa detik mataku tak bisa lepas dari wajahnya sebelum akhirnya kutundukkan pandanganku. Perasaanku terasa aneh, siapa dia?, yang pasti dia adik kelasku karena aku yakin mengenal semua teman seangkatanku.

“Ini kak, saya mau nitip buletin Al Banna dibagikan di kelas kakak.”
Kuambil buletinnya, sekarang aku yakin dia berasal dari divisi media rohis. Memang sejak keluar dari rohis aku tidak begitu memperhatikan organisasi tersebut.

“Baik dek, anggota divisi media ya?” kucoba membuka percakapan karena entah kenapa aku ingin lebih lama lagi didekatnya.

“Yupp, tapat sekali kak. Wah, mantan ketua divisi sudah tidak memperhatikan divisinya dulu toh.”
Aku tersenyum simpul, kuberanikan menatap wajahnya kembali, kali ini lebih lama. Aku merasakan ketenangan dan kesejukkan luar biasa. Seumur hidup aku belum pernah merasakan seperti perasaan seaneh ini, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?

“Maaf kak, buletinnya jangan diremas gitu dong, nanti gak kebaca.”
Mukaku merona merah, tanganku bergerak salah tingkah, dan tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku saking bingung dan malunya.

“Udah dulu ya kak, bentar lagi tryout-nya akan dimulai, saya juga harus segera ke kelas. Terima kasih atas bantuannya.”

“Eh iya, sama-sama.”

Perempuan itu pun berbalik dan baru dua langkah berjalan aku menghentikan langkahnya. “Maaf dek, namanya siapa ya?”

“Bisa dilihat di buletin, yang bikin artikel di halaman 3,” sahutnya kemudian melangkah kembali. Mataku mengikuti langkahnya sampai ia menghilang di belokan ruang matematika.

“Ngapain wat tadi berduaan aja dengan Mio?” tiba-tiba Salim menghampiriku.

“Mio?”

“Iya, Mio Fadlillah, kamu gak kenal dengan penerusmu sendiri?”

“Maksudmu lim?”

“Wah, kamu benar-benar terlalu fokus belajar nih, Mio itu kepala divisi media yang baru, penggantimu. Dia cantik kan?”

“Hush, kamu ngomong apa sih lim, astaghfirullah,” aku beristighfar halus, namun ada rasa senang di dalam hatiku, aku dan dia sama-sama pernah menjadi kepala divisi yang sama di rohis.

“Bercanda kok Wat, eh masuk yuk, bentar lagi tryout akan dimulai,” ujar Salim sambil melangkah ke dalam kelas.

Baru satu langkah mengikuti Salim aku baru ingat sesuatu, kubuka buletin halaman tiga. Judul artikel dan penulisnya tertera jelas di baris paling atas, “Sang Kekasih Allah by Muwaffaqah”.
Kalau tadi aku heran dengan perasaan anehku ketika bertemu dia, sekarang aku benar-benar terkejut mengetahui bahwa dialah penulis misterius yang tulisannya membuatku menangis, bahkan nama yang kuberikan padanya masih ia gunakan dalam tulisannya, Muwaffaqah.

“Mio Fadlillah atau Muwaffaqah, tulisanmu dan dirimu, keduanya telah membuat hatiku terpikat pada saat pertama kali aku membaca tulisannmu dan pada saat pertama kali aku melihat wajahmu,” ucapku dengan sangat pelan.

Dalam hati aku berdo’a, “Ya Allah, jika aku jatuh cinta, labuhkanlah cintaku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu.”
—————————————–

“Barokallah wat, kamu udah jadi sarjana nih,” ucap Froskhan, teman satu jurusanku di ITB.

“Benar, aku sarjana sekarang.” Aku menghela nafas panjang dan pikiranku menerawang jauh ke masa beberapa tahun yang lalu. Man jadda wa jada, barang siapa yang bersungguh – sungguh, maka akan mendapatkannya. Impianku untuk mendapatkan beasiswa kemitraan terwujud, bahkan peringkat pertama. Hasil ini membuatku disodorkan pilihan untuk dibiayai kuliah di salah satu dari 3 universitas, ITB, UGM, atau Unsri. Setelah meminta banyak saran, terutama pencerahan dari emak, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil ITB. Alasan utamaku berkaitan erat dengan ketertarikanku untuk mencari metode paling tepat dalam pengembangan metode pengajaran Islam. ITB, sebagai kampus teknologi, aku yakini bisa memberikan pencerahan.

“Hei Wat, kenapa kamu melamun? Aku tahu, memang berat wisuda tidak dihadiri emakmu, yang tabah ya bro.”

Aku membalas ucapan Froskhan dengan senyuman. Ada dua orang yang begitu ingin temui sekarang. Pertama adalah emakku di Lahat yang tidak bisa menghadiri wisudaku karena kondisi kesehatan beliau yang sedang tidak baik. Kedua adalah Salim, teman karibku di SMA, yang entah kenapa tidak bisa kuhubungi sejak tahun kedua kuliahku.

“Ayo khan, kita pulang,” ajakku.
—————————————–

“Bismillahirrahmanirrahim”

Aku telah siap berangkat. Pakaian yang kukenakan pagi ini cukup berbeda, kemeja muslim khas Rabbani berwarna merah marun dipadukan dengan celana panjang hitam. Pagi ini, 4 bulan dari kelulusanku di ITB, aku memberanikan diri menemui Novri, mahasiswa S2 di Universitas Padjajaran. Tujuannya adalah untuk mengatakan bahwa aku mencintai dan ingin menikahi Mio Fadlillah, adik kandungnya. Aku memang berhasil menahan rasa cintaku pada Mio selama tiga tahun lebih. Aku tidak ingin terjebak dalam cinta yang tidak diridhoi Allah. Namun aku tetap tidak bisa melupakannya. Pertemuan tidak sengaja dengan Novri membangkitkan kembali harapanku padanya. Sekitar 1 tahun lalu, aku bertemu dengan Novri dalam pertemuan mahasiswa muslim asal Sumatera Selatan se-Bandung. Aku dari ITB dan Novri, yang 2 tahun lebih tua dariku, dari Unpad. Dari obrolan yang cukup singkat, ternyata Novri mempunyai adik yang pernah satu sekolah denganku yang bukan lain adalah Mio. Sejak saat itu kami cukup akrab, satu bulan sekali kami bersama-sama menghadiri pengajian Aa’Gym di Daarut Tauhid.

Kantin Masjid Salman ITB, itulah tempat aku dan Novri akan bertemu. Sengaja aku datang setengah jam lebih awal untuk mempersiapkan diri. Kupilih meja di pojok kiri karena disana nyaris tidak ada orang. Aku mulai berpikir mengenai diriku dan mencoba menguji apakah diriku layak untuk melamar Mio. Aku lulusan terbaik di SMA-ku, mendapatkan beasiswa kemitraan, belum pernah pacaran, cukup alim, sarjana dari salah satu kampus terbaik di Indonesia, sudah mendapatkan pekerjaan tetap, dan gemar menulis. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri. Lalu kubuka ranselku dan kuambil beberapa lembar kertas dan itu adalah kumpulan tulisan Mio di buletin Al Banna. Setiap kerinduan datang aku pasti membaca tulisan-tulisan itu dan setiap membaca tulisan itu aku pasti menangis. Baru saja air mataku akan keluar, Novri datang menghampiriku.

“Assalamualaikum Akhi”

“Waalaikumsalam Warohmatullah,” jawabku.

Kami berbincang-bincang singkat mengenai kabar dan aktivitas masing-masing sampai akhirnya aku memberanikan diri menyampaikan maksud sebenarnya.

“Kak Novri, dengan mengharapkan ridho dari Allah, aku sebenarnya ingin melamar adikmu, Mio Fadlillah untuk kujadikan penyejuk hatiku.” Tidak kusangka kata-kata tersebut mengalir dengan tegasnya dari mulutku. Kulihat Novri terdiam dan menunjukkan wajah yang lebih murung. Hatiku bertanya-tanya, apakah aku tidak pantas untuk melamar adiknya?

“Subhanallah…Sungguh maha suci Allah. Aku sangat senang dengan kejujuran hatimu. Bagiku, tidak ada alasan untuk menolak lamaranmu. Aku kenal baik dirimu. Aku tahu keteguhan hatimu. Aku tahu perjuangan kerasmu dalam menegakkan Agama Allah. Aku tahu prestasimu-prestasimu. Hanya saja…” ucapan Novri terhenti.

“Ada apa kak?”

“Maafkan aku belum menceritakan ini padamu. Sekitar 3 minggu yang lalu, Mio sudah menerima lamaran dari orang lain. Pria ini adalah orang ketiga yang melamarnya.”
Aku sungguh kecewa, hatiku sakit sekali rasanya. Walaupun suaraku bergetar, kucoba bertanya, “Siapa pria beruntung itu?”

“Aku belum pernah bertemu dengannya Wat. Dia melamar Mio langsung di rumah, sedang aku berada di Bandung. Dari kabar yang kuterima, namanya Salim Yuandi, dia satu SMA dengan Mio dan berarti saru sekolah denganmu juga. Mungkin kamu mengenalnya.”

Jika tadi aku terkejut mendengarkan Mio sudah dilamar, sekarang aku jauh lebih terkejut. Jika tadi hatiku sangat sakit, sekarang beribu kali lebih sakit bahkan tersayat-sayat. Betapa tidak, ternyata yang melamar Mio adalah Salim Yuandi. Siapa lagi alumni SMA N 4 Lahat yang bernama Salim Yuandi? Salim adalah teman paling baikku di SMA, teman mentoringku, teman satu tim basketku dan teman di divisi media rohis Ash-Shaff. Yang lebih menyakitkan adalah Salim tahu betul perasaanku pada Mio karena hanya kepadanyalah dulu aku berani menceritakan bahwa aku mencintai Mio. Apakah ini alasan Salim tidak pernah bisa kuhubungi selama ini? Sungguh rumit bagiku mengartikan makna cinta dan persahabatan saat ini.
—————————————–

Satu bulan telah berlalu dari masa-masa suramku. Aku tidak mau terjerat terus dalam urusan cinta dan persahabatan. Aku mulai menekuni kembali aktivitasku. Selain bekerja dan mengembangkan usaha, aku cukup disibukkan dengan situs jejaring sosial yang kurintis sejak awal kuliah di ITB, mentoring online. Aku tidak pernah melupakan bahwa salah satu tujuanku masuk ke kampus yang terkenal dengan teknologi ini adalah untuk mencari metode pendidikan Islam yang sesuai perkembangan zaman. Dan di masa serba canggih seperti sekarang, aku memilih media internet sebagai sarana. Awalnya situs yang kubuat hanyalah tempat diskusi agama dan distribusi mentoring bagi yang membutuhkan. Sekarang mentoring online sudah berkembang. Selain diskusi agama yang semakin ramai, pengajian online yang selalu didengarkan ratusan pengunjung, distribusi mentoringpun semakin efektif. Minimal ada dua kelompok mentoring yang terbentuk setiap minggunya. Konsepnya sederhana, orang-orang yang mendaftarkan diri untuk mentoring aku gabungkan dan kucari satu orang sebagai mentornya. Memang pendaftar masih dibatasi daerah Bandung karena aku kesulitan mencari mentor. Biasanya aku mencari mentor dari jaringan-jaringan pengajian yang aku ikuti, Daarut Tauhid, Pusdai, Salman, dan Lembaga-lembaga dakwah kampus. Melelahkan memang, namun aku ingin menjadi jalan hidayah bagi sebanyak-banyaknya orang. Cita-citaku untuk memecahkan permasalahan pendidikan Islam sedikit banyak sudah mulai terwujud.

Aku baru pulang dari Daarut tauhid ketika kulihat sebuah surat yang tergeletak di dekat pintu. Saat itu hujan cukup deras membasahi perjalanan pulangku sehingga aku harus mengeringkan badanku dahulu. Ditemani secangkir teh hangat, aku membuka surat itu. Kubaca secara perlahan.

—————————————–
Bismillahirahmanirrahim,
Assalamualaykum Wr Wb,

Untuk Kak Kurenai Wataru

Bermula dari nama yang engkau berikan, Muwaffaqah, yang diberikan petunjuk.
Berlanjut dengan membaca tulisan-tulisanmu di buletin Al Banna.
Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu langsung denganmu dengan dalih mengantarkan buletin.
Aku pikir aku jatuh cinta.
Ditambah lagi sikap salah tingkahmu saat bertemu denganku, ketika itu, aku yakin Kakak mempunyai perasaan yang tidak jauh berbeda denganku.
Itulah awal mula tumbuhnya rasa cintaku padamu.
Sederhana dan singkat memang, namun jangan remehkan, rasa cintaku padamu terus berkembang, setidaknya sampai aku menulis surat itu.
Harapanku padamu sangatlah besar, tapi aku tutup rapat rasa ini dalam hatiku dan menunggu saat dimana kau akan menjemputku dan mengakhiri penantianku.
Tapi sampai kapan aku harus menunggu?
Kudengar dari Kak Novri, Kakak sudah diwisuda, sudah mendapatkan pekerjaan, dan sudah tidak ada halangan lagi untuk mencari pendamping hidup.
Tapi Kakak tidak kunjung menjemputku.
Bahkan aku sampai ragu, jangan-jangan hanya aku yang merasakan ini, dan semuanya adalah harapan kosong.
Jangan-jangan aku terlalu percaya diri dengan mengira kakak juga mencintaiku.
Lamaran pertama kutolak dengan dalih yang dibuat-buat.
Lamaran kedua kutolak dengan dalih yang lebih dibuat-buat lagi.
Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak lamaran ketiga yang datang padaku.
Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku menunggu Kurenai Wataru datang melamarku, mustahil!
Tak lama setelah lamaran diterima dan persiapan pernikahan sudah dimulai, aku mendapatkan kabar bahwa kakak melamarku.
Sedih kak!
Aku lebih baik tahu bahwa kakak sama sekali tidak mencintaiku daripada aku tahu kakak mencintaiku namun waktunya sudah terlambat.
Episode final penantian cintaku padamu telah berakhir.
Aku memang mencintaimu namun aku lebih mencintai Allah.
Jadi aku tidak akan membatalkan pernikahanku dengan Mas Salim karena itu akan menyakiti dan membuat malu banyak orang, dan itu akan membuat Allah murka.
Terakhir, izinkan aku menyampaikan kalimat yang sesungguhnya sangat ingin aku dengarkan darimu, “Aku mencintaimu karena Allah.”
Mohon bakar surat ini sekaligus bakar kenanganmu padaku, hal yang sama juga akan aku lakukan.
Dan surat ini akan menjadi surat terakhir aku menggunakan nama Muwaffaqah.

Yang membutuhkan petunjuk,
Muwaffaqah
—————————————–

Kuambil korek api dan kupenuhi permintaan terakhir Mio. Saat itu hujan tidak sederas tadi, namun gemericik suaranya ketika beradu dengan seng atap kamarku cukup memikatku untuk keluar. Kugenggam abu sisa surat Mio dan kubawa berlari ke luar. Air hujan membasahi tubuh dan wajahku, namun aku tidak yakin air hujan yang menetes ke wajahku mengalahkan banyaknya air mataku saat itu. Kuhamburkan abu surat Mio ke udara. Aku terduduk lesu di tanah becek, tak peduli ada orang yang melihat apa tidak. Aku memang sedih, namun aku sangat lega. Aku tau Mio juga pernah mencintaiku. Hujan mulai menghilang membawa serta kesedihan, kekecawaan, dan cinta. Entah karena merasa bebas atau karena semangat baru sudah merasuki diriku, aku tersenyum.

“Selamat datang hari esok, antarkan aku pada hari-hari yang lebih indah.”

==========================================================================================================================

Link : http://isef.gamais09.org/acara-isef/63-hasil-lomba-menulis.html
Hasil Penjurian ISEF
Lomba Cerpen

Juri:

1. M. Irfan Hidayatullah, M. Hum (Dosen Fakultas Sastra Unpad, anggota Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena)
2. Baban Banita, M. Hum (Dosen Fakultas Sastra Unpad, Ketua Program Studi Sastra Indonesia)

———————————————————————————————————————–
Hasil penjurian:
Juara I             : Mereka Ingin seperti Ahmad (Rendy Erianda)
Juara II            : Muwaffaqah (Denli)
Juara III           : Islam dalam Koper (Siti Nur Banin)
————————————————————————————————————————-

 

Karya Dari Seorang Adik Bag. 2 25 November 2010

Filed under: Sambung Kata — ibnuanhar @ 01:51

Adikku Denli kembali memenangkan Lomba Penulisan. Teruslah berkarya Adikku

Dikutip dari : http://blog.kompasiana.com/2010/07/18/pemenang-ib-blogger-competition-periode-mei/
Pemenang iB Blogger Competition Periode Mei

Setelah melalui proses penjurian, ide pembentukan Komunitas Keren Bank Syariah (KKBS) yang ditulis oleh Denli Denli akhirnya ditetapkan sebagai pemenang lomba iB Blogger Competition  periode bulan Mei 2010. Dengan demikian Denli berhak atas hadiah bulanan berupa satu unit BlackBerry Gemini.

Lewat tulisan bertema “Saya Mau Semua Orang Tahu Bank Syariah” ini, Denli mengusulkan agar perbankan syariah fokus pada pengembangan komunitas di kampus dengan cara menggandeng organisasi masjid atau lembaga dakwah kampus di Indonesia. Mahasiswa ITB ini melengkapi idenya dengan beberapa ilustrasi dan potensi pasar yang ada di komunitas kampus.

Selain Denli, terdapat lima peserta lomba lain yang berhak mendapatkan hadiah kenang-kenangan dari iB Perbankan Syariah karena tulisannya paling banyak dibaca. Mereka adalah:

* Saya Menyesal Menabung di Bank Syariah oleh Haris

* Assalamualaikum, Perbankan Syariah (Islamic Banking) Indonesia ! oleh Emhasila

* Wwooii… Bank Syariah Ternyata Dahsyat!!! oleh Iqbal Abuginda

* Andai Kau Tahu Apa Itu Bank Syariah oleh Cucun Hendriana

* Bank Syariah Telah Membuat Saya Malu! oleh Ririn Handayani

Selamat untuk Denli dan para pemenang hadiah favorit. Kompasianer yang namanya tercantum di atas diminta mengirimkan identitas lengkap berisi Nama, No KTP/Passport/SIM, Alamat Pengiriman, Email dan Nomor Kontak yang bisa dihubungi via email (subjek: Pemenang iB Blogger Competition Periode Mei) ke kompasiana[at]kompasiana.com sebelum Agustus 2010.

===============================================================================================================

KKBS: Komunitas Keren Bank Syariah

Link : http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2010/05/28/kkbs-komunitas-keren-bank-syariah/

Bank Syariah bukan bank yang hanya bisa digunakan oleh agama tertentu. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa komunitas yang berbasiskan Islam bisa menjadi sasaran yang lebih mudah dalam memperkenalkan bank syariah ini. Ide kreatif pernah muncul dalam organisasi yang saya ikuti, yaitu Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB.  Idenya yaitu membuat Kartu Tanda Gamais (KTG) berupa kartu ATM salah satu bank syariah dengan tujuan sebagai identitas organisasi sekaligus mempromosikan penggunaan bank yang menerapkan nilai-nilai Islam. KTG ini sedang dalam tahap penyusunan konsep dan pendaftaran peminat.  Selain itu ide kreatif juga dilakukan Rumah Amal Salman ITB yang mengharuskan setiap penerima beasiswa bervisi untuk mempunyai kartu pengenal yang juga merupakan kartu ATM salah satu bank syariah.

muamalat

Yang akan Aku Lakukan Agar Semakin Banyak Orang Menggunakan Bank Syariah

Dua contoh nyata yang dilakukan GAMAIS ITB dan Rumah Amal Salman ITB menginspirasiku untuk mengembangkan ide KKBS (Komunitas Keren Bank Syariah). Idenya sederhana, bank syariah mengajak kerja sama komunitas-komunitas untuk membentuk KKBS. Sebagai langkah awal, saya tawarkan untuk membuat KKBS di lingkungan Masjid Kampus, Lembaga Dakwah Kampus, dan Kerohanian Islam (Rohis) SMA.

Contoh Penerapan Ide

Penerapan Komunitas Keren Bank Syariah (KKBS) dapat bervariasi sesuai dengan keadaan komunitas masing-masing. Sebagai contoh, saya membangun konsep KKBS di lingkungan Yayasan Pengembangan Masjid (YPM) Salman ITB. Konsep ini merupakan pengembangan dari konsep penggunaan kartu ATM bank syariah. Anggota yang tergabung dalam KKBS Salman akan mendapatkan  kartu ATM bank syariah dengan berbagai kegunaan. Adapun rincian kegunaan dari kartu ATM KKBS Salman ini adalah sebagai berikut:

1. Kartu ATM

Fungsi dasar kartu ATM sebagai alat untuk menarik, mentransfer, dan transaksi keuangan lainnya tetap akan dipertahankan

2. Tanda Pengenal

Kartu ATM KKBS dilengkapi dengan nama pemilik, foto pemilik, dan logo KKBS Salman, sehingga kartu ATM bisa menjadi tanda pengenal. Target pemilik kartu ATM KKBS ini adalah orang-orang yang beraktivitas di lingkungan Salman ITB yang dapat dibagi menjadi beberapa kategori:

* Pengurus dan Pembina

Terdiri dari dosen-dosen ITB dan alumni ITB yang melaksanakan kegiatan harian dan pengawasan terhadap YPM Salman ITB.

* Lembaga

Merupakan lembaga-lembaga profesional yang menjalankan bidang-bidang tertentu, seperti Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP), Lembaga Kaderisasi (LK), Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD), Lembaga Pengembangan Ekonomi Syariah (LPES), Lembaga Pengkajian Islam (LPI), dan Lembaga Muslimah Salman (LMS).

* Unit Kegiatan Mahasiswa

Merupakan unit-unit kegiatan mahasiswa yang ada di Salman, seperti Karisma, Pendidikan Anak Salman (PAS), Pustena, Salman Film Maker, Majelis ta’lim Salman, dan Saintika.

* Pegawai

Merupakan pegawai-pegawai tetap di Salman pada bidang keamanan, kebersihan, dan logistik.

* Peserta kursus

Terdiri dari anggota kursus yang ada di Salman yaitu kursus bahasa arab, tahsin, persiapan haji, sekolah pra nikah, dan parenting school.

* Penerima Beasiswa

Merupakan penerima beasiswa yang diberikan YPM Salman yang meliputi Beasiswa Bervisi, Beasiswa Rumah Visi, Beasiswa Kampoeng Bangkit, Beasiswa Mu’azin, dan Beasiswa Asrama Visi.

* Alumni

Terdiri dari alumni-alumni yang pernah beraktivitas di unit kegiatan mahasiswa atau lembaga Salman.

* Jamaah

Merupakan jamaah umum yang datang sehari-hari ke Salman. Pada umumnya yang termasuk kategori ini adalah civitas akademika ITB yang beragama Islam.

3. Kartu Perpustakaan

Kartu ATM KKBS ini dapat pula berfungsi dalam peminjaman buku di perpustakaan Salman ITB.

4. Kartu Diskon

Dengan berjasama dengan pihak Kantin dan Toko Istek Salman, ATM KKBS dapat pula digunakan untuk memperoleh diskon pada pembelian dengan ketentuan-ketentuan yang disepakati bersama. ATM KKBS juga dapat digunakan untuk memperoleh diskon dalam program kursus bahasa arab dan kursus-kursus berbayar lainnya di Salman.

5. Akses Internet Gratis

Saat ini Salman sudah berupaya untuk penyediaan akses komputer dengan internet gratis namun masih kesulitan dalam hal pengaturan. Kehadiran ATM KKBS diharapkan mampu menjadi solusi untuk regulasi pemakaian fasilitas tersebut.

6. Kartu Izin Menginap

Gedung asrama Salman lantai 3 dan 4 menyediakan beberapa kamar untuk keperluan penginapan gratis untuk maksimal 3 hari. Namun seringkali fasilitas ini tidak dimanfaatkan karena adanya ketidakjelasan mengenai syarat dan ketentuan untuk menginap. Pemilik ATM KKBS dapat menggunakan fasilitas menginap maksimal 3 hari hanya dengan menunjukan ATM ini.

Peluang Promosi dan Analisis Jumlah Konsumen

Program Komunitas Keren Bank Syariah (KKBS) ini dapat menjadi sarana promosi yang efektif, berkah, dan bermanfaat bagi bank syariah. Saran yang saya berikan, bank syariah memulai program KKBS dari Masjid Kampus dan Lembaga Dakwah Kampus. Analisis mengenai pertambahan jumlah konsumen bank syariah akan diuraikan sebagai berikut:

- Analisis Konsumen Masjid Kampus

Pada contoh uraian mengenai Masjid Salman di atas, dengan banyaknya kategori konsumen (pengurus, pembina, lembaga, unit kegiatan mahasiswa, pegawai, peserta kursus, penerima beasiswa, alumni dan jamaah), dapat diperkirakan jumlah konsumen berpotensi sekitar 500 orang. Misalkan hanya 20% konsumen yang berminat, maka didapat 100 peserta KKBS dari Salman. Menurut data dari Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (liat:http://amki.org/?page_id=94), terdapat 85 kampus yang menjadi anggotanya. Dengan bekerjasama dengan AMKI, bank syariah bisa meningkatkan pengguna KKBS. Apabila 20 kampus saja yang bersedia bekerjasama, maka dapat diestimasi 20×100 pengguna ATM KKBS baru.

- Analisis Konsumen Lembaga Dakwah Kampus

Sesi pertama pendaftaran Kartu Tanda Gamais ITB telah menghasilkan peminat sekitar 100 orang. Lembaga Dakwah Kampus yang serupa dengan ITB yang tergabung dalam Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) ada di hampir perguruan diri tinggi. Apabila hanya 15 Lembaga Dakwah Kampus saja yang berminat, maka dapat dibuat 15×100 ATM KKBS baru.

Untuk tahap selanjutnya, bank syariah dapat mengembangkan kerjasama dengan berbagai komunitas lainnya yang lebih besar.

Keuntungan Bersama

Komunitas Keren Bank Syariah (KKBS) akan menguntungkan setiap pihak yang terlibat. Pihak bank syariah akan mendapatkan kesempatan promosi kreatif yang besar secara gratis karena proses pengajakan dan pendaftaran peminat dilakukan oleh masing-masing komunitas. Pihak komunitas juga akan mendapatkan keuntungan seperti kerapian pendataan anggota, regulasi fasilitas, dan mendapatkan identitas bersama. Seiring dengan kedua pihak sebelumnya, anggota komunitas akan mendapatkan berbagai fasilitas dan kemudahan.

Diluar segala manfaat dunia, semua pihak KKBS akan mendapatkan pahala dan berkah karena sudah berusaha dan menjalankan tuntunan Islam dalam dunia perbankan.

Sumber (blog pribadi): http://akhidenli.wordpress.com/2010/05/28/kkbs/

 

Cerita Foto : Pantai Anyer 29 Agustus 2010

Filed under: Cerita Foto — ibnuanhar @ 05:04

Pantai Anyer yang berlokasi di Provinsi Banten merupakan salah satu tujuan wisata yang menarik. Berikut foto-foto saat singgah di pantai ini tanggal 26 Agustus 2010 :

Pantai Anyer

Pilihan Wisata Keluarga

Hotel Jayakarta, Pilihan Untuk Bermalam

Hotel Jayakarta, Di sisi pantai Anyer

Salah satu pilihan Kuliner

 

Sepuluh Larangan Plus Kereta Wanita 28 Agustus 2010

Filed under: Mata Hati,Opini — ibnuanhar @ 13:20
Tags:

Larangan di Gerbong Kereta

Pelanggan KRL Jabotabek medapatkan suasana sedikit berbeda dalam dua minggu ini. Di gerbong-gerbong kereta ditempel pamplet larangan-larangan selama di dalam kereta. Pihak pengelola jasa kereta api tentu bermaksud meningkatkan pelayanan ke pelanggan dengan mengeluarkan larangan-larangan tersebut.

Dari larangan tersebut, terdapat satu larangan yang menggelitik yakni larangan duduk di lantai dan menggunakan kursi lipat. Bila larangan duduk di lantai mau diterapkan, pihak terkait harus lebih dulu mendidik orang-orang berseragam sebuah departeman yang berhubungan dengan kereta api dimana banyak yang suka duduk dilantai terutama Kereta api Express Jurusan Bogor-Jakarta. Petugas kondektur yang lebih banyak hanyalah dari outsourcing tidak berani menegur penumpang “gratis” ini. Sementara larangan menggunakan kursi lipat mungkin bisa efektif bila perjalanan berjalan lancar. Namun bila tersendat-sendat dan lama, siapa yang akan peduli dengan larangan tersebut.

Larangan makan dan minum ditengarai juga tidak akan efektif. Apalagi disaat bulan puasa seperti sekarang ini dimana banyak yang berbuka puasa di dalam kereta. Sementara larangan-larangan lainnya seperti membuang sampah, merokok, berjualan, mengamen, membawa binatang ataupun membawa senjata, untuk kereta Express sudah terlihat berjalan. Tetapi untuk kereta ekonomi perlu kerja keras petugas agar dapat berjalan sesuai harapan.

Namun larangan-larangan sungguh sulit terwujud kalau PT. Kereta Api Indonesia selalu menuntut pelanggan tanpa membenahi internal mereka sendiri. Masalah krusial seperti jumlah penumpang sangat padat akibat dari kurangnya gerbong atau jadwal kereta saat jam sibuk. Kemudian ketepatan waktu datangnya kereta dan kecepatan penanganan saat terjadi gangguan perjalanan serta mengatasi antrian panjang di loket karcis. Pengelola kereta api mempunyai hak untuk mengeluarkan larangan tetapi jangan lupa punya kewajiban untuk memberikan pelayanan yang baik. Bila pelayanan berjalan baik maka wibawa petugas pun akan menjadi lebih dihormati.

Kereta Khusus Wanita

Petunjuk Arah Kereta Wanita

Program gerbong khusus wanita sebuah langkah yang layak diacungi jempol. Diperlukan ketegasan untuk menjalankannya karena terlihat tetap saja banyak laki-laki memasuki gerbong wanita. Edukasi kepada penumpang wanita juga berperan keberhasilan program ini. Masih banyak penumpang wanita belum memprioritaskan menuju gerbong wanita walaupun gerbong wanita masih belum penuh. Sementara di gerbong umum, penumpangnya padat. Inilah yang menyebabkan banyak penumpang laki-laki pindah ke gerbong wanita. Bagaimanapun program-program pengelola KRL Jabatabek ini layak didukung seperti slogannya demi kenyamanan bersama.

 

Kesan Pertama Terhadap Ustad Ahmad Al Habsyi 21 Agustus 2010

Filed under: Mata Hati — ibnuanhar @ 04:26
Tags:

Ustad Ahmad Al Habsyi (Foto: Arief Rachman)

Ahmad Al habsyi asal Palembang merupakan salah ustad muda yang populer saat ini. Meskipun berasal dari daerah yang sama, namun  terus terang saya belum pernah mendengarkan tausiahnya secara khusus sebelumnya. Memang beliau sering tampil di televisi tetapi saya sendiri yang jarang menonton televisi. Alhamdulillah ketika mendapat undangan buka puasa kemarin dari sebuah perusahaan, pengisi ceramahnya ustad Ahmad. Kesan pertama mendengarkannya ternyata lucu juga ya… Di balik penyampaikannya yang humoris, ustad telah memberikan pencerahan lagi ditengah kegalauan hati ini.

Ceramah ustad Ahmad disajikan ringan dengan metode bercerita. Ustad menceritakan saat suatu nabi Muhammad mau naik mimbar lalu setiap anak tangga yang berjumlah tiga, rosul selalu mengucapkan “amin”. Ketika para sahabat bertanya, rosul menjelaskan bahwa beliau diminta mengaminkan tiga hal oleh malaikat jibril. Ketiga hal tersebut adalah :
1. Celakalah bagi orang melewati bulan Ramadhan tetapi tidak dapat pengampunan dari Allah
2. Celakalah bagi orang yang berkesempatan berinteraksi dengan ayah ibunya namun interaksinya tersebut tidak menghantarkannya ke surga
3. Celakalah orang yang dibacakan shalawat Nabi tapi tidak membalas shalawat tersebut

Sehubungan dengan hal kedua, ustad mengingatkan bahwa kita sering mencari surga yang jauh tetapi lupa dengan surga yang dekat yakni memuliakan orang tua. Dengan tema itu pula, ustad akan meluncurkan sebuah buku berjudul “Ada Surga di Rumahmu”.

Buku tersebut banyak mengupas perjalanan spritual ustad. Salah satu kisahnya yang terjadi beberapa tahun silam. Ustad ingin sekali memiliki sebuah hand phone. Setelah menabung beberapa waktu, ustad berhasil membelinya. Selama tiga hari, ustad banyak menghabiskan waktu luang bersama handphone nya. Di hari ketika dia ditanya ibunya yang biasa dipanggil ummi. “Ahmad, adikmu baru lulus SMP, sekarang mau daftar SMA. Bolehkah ummi meminjam uang darimu.” Demi cintanya pada orang tua, ustad Ahmad langsung mengiyakan bahwa besoknya akan memberikan uang kepada sang ummi bukan meminjamkan. Saat itu ustad sedang tidak mempunyai uang. Untuk memenuhi janjinya beliau menjual HP nya yang baru dibeli tiga hari lalu sebesar Rp. 750.000,-

Berselang beberapa hari kemudian beliau ceramah di sebuah tempat. Salah seorang jamaah ternyata pemilik bisnis/toko elektronik yang ikut mendengarkan ceramah ustad. Dia beserta keluarganya tertarik untuk memperdalam ilmu agama dari ustad. Kemudian ustad diminta datang ke kantor orang tersebut di lantai dua sebuah ruko sementara lantai pertamanya merupakan toko elektronik. Sebelum bertemu pemilik toko, ustad sempat memesan akan membeli HP seharga Rp. 100.000,- di toko kepada pelayan. Ternyata sang pelayan menceritakan kepada pemilik toko bahwa ustad berniat membeli HP. Akhirnya ustad malah diberikan HP seharga Rp. 7,5 juta sebagai honor awal dalam rangka mengajar sang pemilik toko dan keluarganya. Allah telah membalas sepuluh kali lipat dari yang ustad keluarkan kepada umminya. Ketika pulang, ustad langsung menghadap umminya. “Ummi, kalau butuh uang lagi kasih tahu. Nanti HP ini dijual lagi,” tutur ustad.

Saya tentu tidak dapat menceritakan sebaik Ustad menceritakan. Jadi saran saya beli saja bukunya. Saya mencatat sedikit cerita humor ustad masih berkenaan dengan umminya. Ustad biasanya selalu menyisihkan uang dari ceramah buat umminya. Sang Ummi selalu menanyakan asal uang ketika menerimanya. Ummi terus menjaga agar apapun yang didapatnya adalah halal. Suatu ketika ummi menolak pemberian ustad karena uang diperoleh dari ceramah di kantor polisi. Karena sayangnya ustad dengan umminya, ustad langsung menelpon polisi yang memberikan uang dengan menggunakan speaker. “Halo Bang, mohon maaf saya tidak bermaksud apa-apa. Sudah kebiasaan saya kalau mendapat rezeki selalu memberikan kepada ummi, namun kali ini ummi menolak karena tidak tahu uangnya halal atau haram. Tolong dijelaskan kepada ummi,” tutur ustad berbicara kepada polisi. Diseberang sana Polisi langsung menjawab, “Ummi tenang aja, itu uang yang dikasih ke ustad adalah uang halal. Yang haram sudah dipisahkan.”

Sebuah kisah nyata juga diceritakan oleh ustad mengenai materi kesabaran. Imam terkenal Al Bushiri perna diuji oleh Allah lumpuh selama 15 tahun. Dengan kelapangan dadanya, Imam membaca shalawat kepada Rosullulah setiap malam. Suatu malam Imam mendapat mimpi bertemu rosul. Dalam mimpinya rosul mengusapkan selendangnya kepada imam. Begitu terjaga dari tidur, Imam telah sembuh total. Imam tersebut kemudian mengarang kitab “Selendang yang Memberikan Kesembuhan”.

Selain itu, ustad juga mengingatkan hadirin untuk selalu memperpanjang silaturahim. Bila kita banyak bersilaturahim maka bukan kita mengejar dunia tetapi sebaliknya dunia mengejar kita. Demikian sebagian apa yang disampaikan ustad Ahmad Al Habsy. Beruntunglah negeri ini mempunyai ustad muda seperti beliau yang mampu menarik umat untuk mendengarkan kebenaran. Semoga beliau dijaga keistiqomahannya dalam menyebarkan kebaikan dan senantiasa dilindungi Allah SWT. Amin

Jakarta, 19 Agustus 2010

 

KRL Jabotabek, Potret Buram Transportasi Indonesia 16 Agustus 2010

Filed under: Mata Hati — ibnuanhar @ 22:46
Tags:

Hari ini 16 Agustus 2010 atau sehari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke-65 tahun, dada ini disesakkan ketika melihat sesosok yang tergeletak tanpa nyawa di stasiun kereta api, Palmerah Jakarta. Menurut pembicaraan sesama penumpang, korban terjatuh dari atap kereta ekonomi yang berjalan di depan kereta yang saya tumpangi. Kejadian serupa sudah sering kali terjadi namun seolah tidak jera para penumpang berada diatap kereta yang melaju kencang. Apakah mereka tidak mau membeli karcis ? Jawabannya Tidak. Menurut salah satu penumpang. Mereka naik keatas karena merasa lebih nyaman. Di dalam gerbong kereta, penumpang penuh sesak dengan segala macam aroma. Meskipun ada larangan, tukang jualan tetap saja ikut memenuhi kereta yang sudah sumpek. Belum lagi pencopet yang berkeliaran siap memangsa siapa saja yang sedikit lengah.

Kereta yang katanya ekspress AC hanya sedikit lebih baik dari kereta ekonomi karena tidak ada tukang jualan berseleweran. Sisa nya sama saja. Di jam-jam sibuk tetap saja kereta ekspress penuh sesak bahkan minggu lalu seorang teman kantor kecopetan hand phone Blackberry kesayangannya. Pendingin udara atau AC yang katanya menjadi andalan kereta jenis ini juga sering mati. Untuk jalur Bogor-Jakarta atau sebaliknya, ketika di depan kereta Expreess terdapat kereta ekonomi maka tetap saja keretanya tersendat-sendat sampai bisa menyusul hanya di stasiun tertentu seperti pasar minggu dan depok.

Satu hal lagi yang paling parah saat ada gangguan di jalur kereta seperti pensinyalan rusak, kereta anjlok ataupun ada pohon tumbang, perbaikannya memakan waktu yang sangat lama. Saya pernah mengalami naik kereta jurusan Bogor-Jakarta  selama 5 jam dari biasanya hanya kurang dari 1 jam. Masalah yang dialami dari waktu ke waktu hanya itu-itu saja, tetapi mengapa pihak terkait tidak menyiapkan tim gerak cepat untuk mengatasi masalah. Belum lagi antrian tiket dibiarkan begitu panjang pada jam-jam sibuk yang menimbulkan kepanikan ketika jadwal kereta tiba. Ini terlihat dibeberapa stasiun terutama stasiun Sudirman.

Mengapa Masih Naik Kereta?

Sebuah pertanyaan bernada sombong yang sering terdengar. Iya, kalau jasa kereta api tidak memuaskan mengapa masih naik kereta?. Jawabanya belum ada alternatif pengganti yang lebih baik terutama untuk jalur Jakarta menuju kota-kota satelit di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek). Menggunakan kendaraan pribadi maka bersiap untuk mengalami kemacetan walaupun melewati jalan yang berjudul TOL sekalipun. Apalagi menggunakan bis-bis angkutan umum.

Namun ketika terdapat alternatif lain maka dengan pelayanan buruk seperti sekarang, kereta api pasti akan ditinggalkan. Sebagai contoh saja, jalur Jakarta-Bandung. Saya masih ingat bertahun-tahun lalu ketika antrean sudah mengular, loket karcis belum dibuka. Kaki-kaki calon penumpang sudah sangat pegal baru mendapat pelayanan. Apa yang terjadi sekarang? Bangkrut. Iya, monopoli penumpang bertahun-tahun sirna setelah dibukanya jalur tol Cipularang. Penumpang banyak beralih ke shuttle-shuttle minibus yang memberikan pelayanan yang lebih baik dan lebih cepat sampai tujuan. Pada tahap ini baru pengelola kereta api mau berbenah tetapi terlambat. Loket buka sepanjang waktu tetapi yang beli hanya ramai hari-hari tertentu saja. Program double track baru dimulai setelah penumpang merosot. Sekali lagi terlambat Pak…

Kembali ke KRL Jabotabek, maka akan mengalami hal sama suatu saat mendatang jika tidak berubah dari sekarang. Siapa yang mau menyuarakan masalah transportasi massal seperti ini. Atau mungkin sudah banyak yang menyuarakan tetapi pejabat diatas sana masih sibuk dengan bini muda. Tidak ada yang tahu… Yang kita tahu Indonesia sudah 65 tahun merdeka…

16 Agustus 2010

 

Memaksa Diri Untuk Menulis 15 Agustus 2010

Filed under: Opini — ibnuanhar @ 04:34
Tags:

Menulis merupakan hobi yang sangat menyenangkan. Namun terkadang sangat malas untuk memulainya bila tidak disertai motivasi tertentu. Ketika masa remaja di masa lampau, seorang yang sedang dilanda cinta monyet bisa menumpahkan puluhan catatan harian dan puisi. Keinginan yang kuat dan datang dari pengalaman pribadi telah telah menembus penghalang diri untuk menulis. Sebagai insan manusia sudah tentu kita mempunyai pengalaman yang panjang dalam mengarungi kehidupan. Pengalaman tersebut sangat sayang kalau hanya untuk dikenang apalagi kenangan yang bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Masih ingat di benak kita bagaimana seorang Andrea Hirata yang menjadi sangat populer hanya karena ia mampu menuliskan pengalaman pribadinya dalam novel Laskar Pelangi.  Bahkan keuntungan materi yang diperoleh tidak terbayangkan oleh seorang Andrea sebelumnya. Lebih dari itu, Andrea telah memberikan inspirasi dan motivasi kepada khalayak luas tentang semangat mengarungi kehidupan dan meraih cita-cita.

Hal kedua yang hampir selalu kita lakukan adalah memberi komentar apapun yang terjadi di sekeliling kita. Mulai dari kejadian politik, sosial, olahraga bahkan semua hal tidak luput dari opini kita. Tetapi ketika kalimat-kalimat panjang yang kita ucapkan dan menghabiskan banyak waktu tersebut diubah kedalam bentuk tulisan, kita seolah tidak mampu menggerakkan jari jemari. Padahal sangatlah sederhana yang dapat kita lakukan yakni mengubah ucapan ke dalam bentuk tulisan. Tidak perlu memikirkan tata bahasa atau kalimat yang indah. Tulislah saja seperti apa yang kita katakan. Cukup itu saja.

Terakhir, kita sering mendengar orang berbicara lalu kita menyimpannya dalam hati. Baik itu perkataan biasa, humor atau pun mengandung ilmu. Menulis juga bisa dimulai dari hal ini dimana kita mencatat apa yang menarik bagi kita dari perkataan orang lain. Dengan kemajuan teknologi di masa kini, hal itu sangatlah mudah dimana kita cukup mencatatnya di telepon gengam yang hampir dimiliki semua orang dewasa saat ini. Bila ada waktu, catatan-catatan tersebut dapat dipindahkan menjadi sebuah tulisan atau artikel.

Paparan diatas itulah yang akan coba saya lakukan. Sebagai aktualisasinya maka saya membuat blog ini. Saya ingin menulis dan terus menulis tanpa harus memikirkan dulu tata bahasa dan aturan-aturan dalam satra. Kalau selagi ada waktu, pelan-pelan saya ingin mempelajari berbahasa tulisan yang baik. Namun untuk sekarang waktunya untuk menulis.

 

Salam Perkenalan 5 Juni 2010

Filed under: Mata Hati — ibnuanhar @ 19:27

Selalu tak ada waktu untuk menulis bebas. Itulah yang terpatri di benak ini. Pekerjaan utama di siang hari dilanjutkan dengan pekerjaan freelance di malam hari. Belum lagi urusan keluarga dan rutinitas lainnya. Namun melalui blog ini, saya mencoba mendobrak diri untuk menghadirkan sisi lain dalam kehidupan saya. Menulis bebas dan bebas menulis….

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.